7/25/2013


Jujur Kepada Anak, Kenapa Tidak?
Publikasi: 26/04/2002 17:28 WIB



eramuslim - Jujur kepada anak, kenapa tidak? Ungkapan ini agaknya cocok ditujukan pada orang tua yang selama ini selalu merasa diri mereka paling benar di hadapan anak. Sekalipun mereka mungkin salah, dan anak berada di pihak yang benar. Perasaan gengsi jika mengaku bersalah di hadapan anak, adakalanya membuat orangtua malu berlaku jujur pada anak.

Tentu saja sikap otoriter seperti itu sangat tidak dibenarkan. Sebab, otoritarianisme bukanlah budaya yang baik jika diterapkan dimana pun, apalagi tumbuh dan berkembang dalam keluarga kita. Anak, betapapun mungkin kita anggap nakal, tetapi sesungguhnya dia tidak bermaksud berbuat nakal. Jika ia sedang bermain hatta sampai merusak barang yang kita sayangi secara tidak sengaja misalnya, tindakan mereka bukan untuk main-main yang tanpa tujuan. Bermain untuk anak usia tertentu, adalah sesuatu yang serius dan keharusan.

Rosulullah SAW bersabda; "Hobi, permainan dan kelincahan gerak seorang anak pada waktu kecil, akan mempertajam pemikirannya ketika dewasa." (HR At-Tirmidzi).

Imam Al-Ghazali menjelaskan dalam Ihya 'Ulumuddin juz V bab Mengobati Penyakit Hati, "Hendaknya anak kecil diberi kesempatan bermain. Melarangnya bermain dan menyibukkannya dengan belajar terus akan mematikan hatinya, mengurangi kecerdasannya, dan membuatnya jemu terhadap hidup, sehingga ia akan sering mencari alasan untuk membebaskan diri dari keadaan sumpek itu."

Jika anak melakukan tindakan yang perlu diluruskan, orangtua bisa melakukannya dengan memberikan tindakan alternatif lain yang baik. Misalnya anak berteriak-teriak di waktu malam, ibu dapat mengatakan, "Hanif, main sama Umi yuk! Ini lho, Umi punya gambar bagus. Kita warnai yuk sama-sama!"

Tentu saja memarahi anak yang rewel atau susah disuruh berhenti tatkala bermain-main, dengan mengeluarkan umpatan atau bahkan sampai menyakitinya, bukanlah tindakan yang bijak. "Ayo diam, nanti ada setan lho", kalimat yang biasanya kerap digunakan para ibu untuk mendiamkan anaknya yang menangis tengah malam, adalah tindakan yang sangat keliru. Dengan begitu anak, secara tidak langsung diajarkan untuk takut kepada setan.

Sebaiknya, orangtua menghindari kata-kata yang bersifat larangan. Sebab anak sulit menentukan alternatif tindakan, ketika ia tidak boleh berteriak-teriak misalnya. Boleh jadi dengan cara otoriter, kita bisa mendiamkan anak, tapi kemudian anak mungkin akan memukul-mukul benda yang lain. "Kamu bisa diam apa enggak sih?! Awas kalau tidak Bapak gebuk kamu!"

"Tadi kan Bapak kan cuma melarang Hanif berteriak, mukul-mukul kaleng boleh kan?" mungkin begitu jawaban anak.

"Eh..., kamu ngelawan ya!" dan ....'plak' tangan kita pun melayang ke paha atau pantat anak.

Jelas, jika seperti itu tindakan yang kita ambil, adalah keliru besar. Anak tentu heran, sebab jalan pikirannya sangat sederhana. Ia pasti tak akan sanggup membaca alam pikiran kita. Karena anak merasa, bahwa apa yang dilakukannya bukan dimaksudkan untuk melawan orangtua, apalagi bermaksud kurang ajar kepada kita.

Tindakan tangan besi yang kita timpakan pada anak, jelas bukan hanya tidak dimengerti anak. Tapi anak akan merasa sedih dan tertekan jiwanya. Pukulan yang kita lakukan terhadap anak, pasti akan berbekas dan sulit dihilangkan dalam waktu lama. Jika saja kondisi kejiwaan anak seperti itu kita tidak sadari, tentu saja berbahaya bagi perkembangan kejiwaan dan kreatifitas anak.

Betapapun sederhananya, anak mempunyai argumen-argumen atas setiap tindakannya. Ia pasti punya alasan kenapa dia berbuat "nakal", sesuai dengan jalan pikirannya yang sederhana. Jalan pikirannya inilah yang seyogyanya tidak dipaksakan harus mengikuti frame pemikiran kita.

Umpatan dan tindakan main tangan besi pada anak jelas suatu kekeliruan dan kesalahan. Kita tidak usah malu meminta ma'af pada anak, jika memang kita kelepasan mulut atau tangan, sehingga keluar umpatan dan pukulan. Sebab minta ma'af atas kekeliruan kita pada anak bukan suatu yang aib dan menjatuhkan martabat kita di hadapan anak. Percayalah dengan jujur mengakui kesalahan kita, kewibawaan kita tidak akan dilecehkan anak. Bahkan anak akan lebih hormat pada kita dan insya Allah menjadikannya lebih penurut. Wallahu a'lam. (sulthoni)

0 komentar:

Post a Comment

monggo / silahkan beri komentarnya.